Namun terkadang kita dipaksa untuk menyerah, dipaksa untuk berhenti melangkah. Ada kalanya kita menjadi demikian putus asa, merasa tak berdaya dan tak mampu lagi melakukan apa-apa. Ada saat-saat dimana kita berada dalam titik nadir, berada dan tenggelam begitu jauh di lembah keperpurukan. Entah apa masalah atau alasan dibalik keterpurukan itu, namun kebanyakan kita pasti pernah mengalami hal semacam itu. Dalam kondisi atau keadaan itu, pikiran kita yang telah sama lelahnya dengan berbagai aspek dalam kehidupan kita mungkin berbisik, “aku menyerah. Aku tak sanggup untuk berjalan lagi”. Saya pernah mengalami masa dimana satu-satunya pilihan yang tersedia untuk saya hanya berhenti melangkah, menyerah karena saking tidak berdayanya. Saya telah mencoba semua cara, semua pendekatan, namun saya tak bisa membuat keadaan lebih baik. Karena itu, saya tak akan menyalahkan siapa pun diantara anda yang hendak menyerah.
Namun kemudian saya sadar. Saya telah melangkah begitu jauh. Terlalu jauh malah. Saya tidak mungkin kembali (dan perjalanan hidup adalah sama seperti perjalanan waktu, dimana sekali kita melangkah kita tak akan mampu lagi untuk mundur atau kembali), namun energi saya untuk terus melangkah juga telah habis. Di pikiran saya hanya satu, saya harus berhenti melangkah dan duduk menunggu mati, atau mengumpulkan sisa-sisa tenaga saya untuk terus melangkah. Harapan membuat saya lebih kuat. Harapan memberikan cahaya penerangan diantara gelapnya situasi yang saya alami. Saya melangkah sedikit demi sedikit, terus berjuang menghadapi masalah yang tidak bisa saya selesaikan, sambil berharap akan muncul pertolongan, akan muncul sesuatu yang bisa menambah energy saya. Saya melangkah, dan terus melangkah.
CLOSE
Komentar
Posting Komentar